Stress dan Kesehatan
Stress dan Kesehatan
A. Hubungan
Antara Stress dan Stressor
1.
Stress
Stress
merupakan suatu bentuk penjabaran fisik, emosional yang menjadi respon kita
terhadap ancaman atau hal yang tidak kita sukai. Factor kenapa kita bisa stress
itu dapat dipengaruhi banyak hal, seperti kurang tidur, tugas yang menumpuk,
masalah yang datang bertubi-tubi dan kita tidak tahu cara menyelesaikan masalah
yang ada sehingga timbul stress. Tentunya perilaku yang ditimbulkan dari stress
itu setiap orang berbeda-beda. Ada yang banyak menangis, memukul barang,
melukai diri, makan yang banyak, dan lainnya. Biasanya orang stress itu
sensitive, mudah tersinggung, dan selera humornya menurun. Setiap orang akan
mengalami tingkat stress yang berbeda, tergantung masalah dan car akita
menyikapinya.
2. Stressor
Stressor
merupakan pemicu atau penyebab terjadinya stress, yang datangnya bisa dari internal
(dari dalam diri) maupun eksternal (dari luar) bisa dalam kadar yang ringan
hingga berat. Contohnya saat kita menerima banyak tugas yang memiliki tenggat
yang sama sehingga bingung untuk mengerjakan yang mana terlebih dahulu, maka
tugas tersebut dapat menjadi pemicu kita stress. Selain itu stress juga dapat
dalam bentuk khayalan, hanya dengan memikirkan atau berkhayal hal yang belum
terjadi dan berangan terjadi suatu masalah, maka akan timbul stress diakibatkan
imajinasi kita sendiri.
Stressor
itu dapat terbagi menjadi dua, yaitu distress dan eustress :
a. Distress
Distress merupakan
penyebab stress yang berdampak negative, misalkan kita stress terhadap tugas
maka kita salah mengambil keputusan, selera makan menurun maka hal itu akan
berdampak negative terhadap kesehatan. Atau respon kita yaitu dengan menangis
berlebihan hal itu akan berpengaruh pada mood atau juga bisa menguras energi.
b. Eustress
Kebalikan dari distress, maka
eustress ini merupakan penyebab dari hal yang positif yang mana mengharuskan
kita untuk mengalami yang namanya adaptasi. Contohnya saat kita bisa kuliah itu
merupakan suatu hal yang positif, namun setelahnya kita harus beradaptasi
dengan banyak hal seperti sibuk organisasi, sibuk nugas, istirahat berkurang
maka dengan adanya adaptasi tapi penyebabnya positif.
Ada beberapa alasan
mengapa seseorang menganggap itu dapat membuat stress :
1. Tekanan
Dari masalah yang
dihadapi kita merasakan adanya tekanan atau didesak sehingga hal itulah yang
dapat menimbulkan stress. Disaat kita dipenuhi perasaan ingin berbuat lebih
tapi dibawah tekanan dan tuntutan, entah itu tuntutan waktu dan lainnya. Bahkan
dibeberapa orang dengan adanya tuntutan waktu bisa menggagalkan fokusnya.
2. Tidak
terkontrol
Alasan lainnya yaitu
kurangnya kendali atau hilangnya control terhadap diri kita. Bahkan tingkat
stress tersebut dapat dilihat seberapa besar kitab isa mengontrol diri.
3. Frustasi
Frustasi terjadi saat
keinginan atau tujuan kita tidak terjadi sesuai harapan atau terhalangi maka
kita akan frustasi. Frustasi juga dapat dipengaruhi eksternal, dan seberapa
besar kadarnya itu tergantung seberapa penting tujuan yang kita punya.
4. Agresi
Agresi erat kaitannya
dengan frustasi yaitu tindakan menyakiti, yang mana awal mulanya dari rasa
frustasi yang akan dilanjutkan dengan sikap agresi. Tapi tidak semua frustasi
akan dilanjutkan dengan agresi, namun frustasi hanya sebagai pemicunya.
B. Faktor
Fisiologis Dari Stress dan Kesehatan
Pada
factor fisiologis ini kita juga akan membahas autonomic nervous system (ANS)
atau sistem saraf otonom, dinamakan otonom berarti ini mengatur hal yang
terjadi secara otomatis atau tidak sengaja. ANS terbagi menjadi simpatik dan
parasimpatik, simpatik yaitu reaksi tubuh saat kita stress, contohnya
penghambatan pencernaan, lalu parasimpatik yaitu yang mengembalikan kondisi
tubuh normal kembali.
1. General
Adaptation Syndrome
Hans Selye meneliti
mengenai stress dan dampaknya terhadap tubuh, ia juga mempelajari urutan reaksi
fisiologis kita Ketika menerima stressor (pemicu stress), rangkaian urutan ini
disebut syndrome, dirangkum dalam 3 tahap :
a. Alarm
Saat menerima stressor
maka tubuh akan bereaksi, saraf simpatik akan diaktifkan dan kelenjar adrenal
akan melepas hormon seperti tekanan darah, denyut jantung, dan lainnya.
Sehingga tak jarang saat kita stress itu merasa pusing, mual, dan berantakan.
Pada tahap alarm, seolah ia disebut sebagai peringatan bahwa telah menerima
stressor.
b. Resistensi
Tahap stress berlanjut,
setelah menerima stressor maka akan terus melepas hormon untuk membantu tubuh
dalam melawan atau menyelesaikan stress tersebut. Gejala awal yaitu khawatir
kita mulai hilang dan merasa lebih baik. Hal ini terus terjadi hingga stressor
itu berakhir dan kita sudah mulai kehilangan tenaga. Saat stress hormon yang
banyak yaitu epinefrin.
c. Kelelahan
Saat semua proses di atas kita lakukan maka kita akan kekurangan sumber data, kita akan kehilangan energi karna banyak terkuras akibat stress. Disaat merasa lelah saraf parasimpatik akan bekerja untuk memulihkan energi kembali.
Dari penelitian Hans Selye inilah dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara stress dan kesehatan seseorang, yang mana stress ini tidak dapat kita hindari, karena dalam hidup akan terus ada masalah yang harus kita hadapi, tergantung bagaimana kita beradaptasi kedepannya. Saat kita stress, khawatir lalu merasa Lelah maka hal itu akan berdampak pada sistem kekebalan tubuh, kita akan pusing, kurang makan sehingga mag.
2. Keterkaitan
Imun dan Stress
Seperti
pada penelitian Selye, bahwa saat kita menerima stressor itu tubuh atau
fisiologis akan merespon yang mana itu berkaitan dengan imun atau sistem
kekebalan tubuh. Saat kita stress dengan detak jantung ataupun tekanan darah
yang tidak stabil sehingganya akan menyerang sistem kekebalan tubuh.
Jadi imun itu ada
menghasilkan antibody atau enzim tertentu untuk melawan bakteri yang masuk
dalam tubuh, yang mana akan mengaktifkan sistem saraf vagus yang akan
menghantarkan sinyak kepada otak bahwa tubuh sedang sakit. Dalam kehidupan kita
pastinya sering mengalami stress yang berujung kelelahan maka dari itu hal itu
dapat merusak imun seseorang jika terjadi secara terus menerus.
3. Health
Psychology
Masyarakat
mulai menyadari bahwa kesehatan itu ada kaitannya dengan aktifitas atau apa
yang kita lakukan sehari-hari. Psikologi kesehatan ini berfokus pada sifat
fisiologis, kondisi fisik bahwa hal itu dapat mempengaruhi kesehatan kita secara
keseluruhan. Contoh psikologi pada bidang kesehatan yaitu psikologi klinis yang
juga bekerja di klinik atau beberapa psikologi kesehatan juga bisa jadi
pengajar maupun peneliti.
Pada psikologi
kesehatan mereka ingin meneliti dan mengetahui bagaimana oabt-obatan atau jenis
makanan dapat melawan penyakit yang ada. Serta juga ingin tahu bagaimana factor
kemiskinan dan lainnya dapat mengakibatkan buruk terhadap kesehatan. Psikologi kesehatan
juga berkaitan dengan psikologi perilaku, tampak bahwa disini ada kolaborasi
antara kedokteran dengan psikologi.
4. Factor
Kognitif
Sebenarnya
factor kognitif itu memiliki peran yang penting juga, tentang bagaimana
kognitif kita mengartikan stressor yang terjadi. Misalkan saat masalah atau
stressor itu datang itu tergantung bagaimana kognitif kita menilai sesuatu itu,
besar atau kecilnya itu tergantung kognitif. Maka ada hubungannya juga dengan
teori Lazarus yang mana sebelum kita mengalami atau merasakan emosi kita nilai
secara kognitif yang mana hal tersebut dapat berpengaruh dengan perlakuan yang
akan kita alami. Jika dinilai susah maka kita akan menjalani dengan berat,
begitupun masalah jika kitab isa menilainya bahwa itu masalah yang ringan maka
kita hanya akan mengalami stress yang ringan.
Menurut
Lazarus ada dua cara untuk menghadapi stressor, pertama dengan penilaian primer
yang mana bagaimana kita menilai sesuatu itu sebagai sebuah ancaman, tantangan,
atau kerugian yang sudah terjadi. Jika kita memandangnya sebagai ancaman maka
kita akan pesimis dan timbul emosi negative, namun saat kita memandang suatu
itu sebagai tantangan maka akan muncul emosi positif. Contohnya saat kita
mengalami kesibukan kuliah tambah tugas, jika kita menganggapnya sebagai suatu
ancaman maka kita akan stress berfikir bahwa itu tidak akan terlewati sehingga
tugas keteteran. Sebaliknya jika kita menganggapnya sebagai sebuah tantangan
maka kita akan berusaha mengerjakan satu-persatu agar semua terselesaikan dan
kegiatan tetap berjalan lancer.
Kedua yaitu
penilaian sekunder yang mana kita mengukur dir, kemampuan, dan energi kita
untuk menghadapi stressor. Jika kita memiliki sumber daya yang baik atau
lengkap maka kita akan menganggap stressor itu kecil dan begitupun sebaliknya.
Contohnya saat banyak tugas lalu kita nilai sumber day akita, bahwa kita tidak
mengantuk, punya materi, punya makanan maka kita akan mengerjakan tugas
tersebut dengan baik dan santai karena sumber daya yang memadai.
5. Kepribadian
Cara melihat sesuatu dengan kognitif itu
berkaitan juga dengan kepribadian yakni bagaimana kita menyikapi atau
berperilaku terhadap stressor, yang akan disebut sebagai pribadi masing-masing.
Kepribadian setiap orang tentu akan berbeda. Telah terbukti bahwa karakteristik
kepribadian itu factor utama untuk dapat mengetahui kesehatan seseorang. Jika
respon terhadap stress itu buruk, agresif maka akan berpengaruh pada kesehatan.
Sedangkan jika pribadi kita dalam menghadapi masalah atau stressor itu baik,
tenang maka akan dampak baik pula pada kesehatan. Karena dengan hati Bahagia
kita akan mudah tersenyum dan akan berdampak baik pada mood makan dan
seterusnya.
Dokter Meyer Freidman dan Ray Roseman
menerbitkan sebuah buku berjudul Type A Behavior and Your Heart. Buku
ini berisi penelitian tentang pengaruh karakteristik kepribadian dengan jantung
coroner. Tipe kepribadian itu dibagi menjadi Tipe A dan Tipe B. Tipe A
merupakan seseorang dengan kepribadian yang ambisius, gila kerja, kompetitif,
mereka benci dengan hal yang tidak berguna atau sia-sia. Mereka cenderung ingin
lebih cepat dan lebih baik dari orang lain. Mereka ambisius dengan hasil yang
sempurna dan sering merasa tidak puas. Kebalikannya Tipe B itu cenderung
santai, damai, ceria, bersemangat, tidak gila kerja. Maka dilakukan penelitian
yang hasilnya bahwa Tipe A itu cenderung lebih mudah terkena penyakit jantung
coroner, karena ia tidak ada waktu untuk bersantai. Bahkan waktu santainya ia
pakai untuk bekerja.
6. Factor
Sosial
Factor
sosial memang dapat memicu terjadinya stress, yang mana kita manusia merupakan
makhluk sosial yang akan selalu berhubungan dengan orang lain yang
berkemungkinan besar masalah itu emang datang dari sosial atau luar. Terkait
kemiskinan, Ketika kekurangan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup juga dapat
menjadi pemicu stress. Stress pekerjaan, meskipun dengan punya pekerjaan dan
gaji bukan berarti tidak punya masalah yang dapat memicu stress juga. Salah
satu contoh stress dari pekerjaan yaitu kelelahan. Tidak hanya bagi orang yang
bekerja bagi kita mahasiswa yang sedang berkuliah juga dapat stress karna kelelahan
akibat banyaknya kegiatan maupun tanggungjawab lainnya.
Bagaimana
dengan budaya yang dapat mempengaruhi stress seseorang, tentunya saat budaya di
daerah kita seperti ini, namun saat merantau kita harus bisa menyesuaikan
dengan budaya orang lain, maka akan timbul stress apalagi jika hal itu sangat
jauh berbeda dengan budaya kita, kita akan melalui proses adaptasi yang berat.
C. Coping
Stress
Coping
stress merupakan cara mengatasi stress, saat kita menerima stressor lalu kita
stress maka hal tersebut dapat diatasi, setiap orang akan mempunyai coping
stress yang berbeda-beda.
1. Strategi
Coping Stress
Strategi
coping stress ini merupakan suatu perilaku atau tindakan yang kita lakukan guna
untuk mengurangi atau mengatasi stress. Jadi saat menerima stressor kita
melakukan strategi atau tindakan yang dapat mengatasi stress tersebut. Misalnya
aku stress karena uang jajan bulanan tinggal sedikit, maka coping stress atau
cara untuk mengatasinya dengan hemat dan kurangi jajan yang tidak begitu
penting.
Beberapa
penelitian mengatakan bahwa dengan tertawa dapat meningkatkan hormon yang
melindungi kesehatan dan dapat mendatangkan hal positif. Selain itu kita juga
bisa melakukan meditasi yang mana bertujuan agar kitab isa tetap relaks. Jenis meditasi
yang paling sering adalah meditasi konsentrasi yang mana dapat memfokuskan pada
satu hal sehingga dapat mengurangi pikiran mengenai masalah. Herbert Benson
menemukan bahwa meditasi dapat merelaksasi, tekanan darah menurun dan gelombang
alfa meningkat (gelombang alfa berhubungan dengan realksasi). Jadi dapat
disimpulkan bahwa dengan metode relaksasi atau meditasi ini memang efektif
untuk dapat mengurangi stress dan membuat keadaan jauh lebih tenang dan nyaman.
2. Dukungan
Sosial Mempengaruhi Coping
Dukungan sosial itu
datang dari orang lain seperti, teman, keluarga, dan lainnya yang bisa dalam
bentuk nasihat, dukungan material, dan lain sebagainya. Jika kita punya
dukungan sosial yang baik dan cukup maka potensi kita terkena stress itu amat
kecil, atau kita dapat lebih mudah dalam mengahadapi stressor. Dengan meningkatnya
dukungan sosial akan berdampak baik pada kesehatan seseorang.
3. Budaya
Mempengaruhi Coping
Setiap daerah akan
memiliki budayanya masing-masing, jadi setiap daerah pun juga punya cara yang
beda untuk mengatasi stress tersebut. Kita tidak bisa mengatakan budaya itu
salah tapi memang seperti itu cara mereka dalam menghadapi stress.
4. Agama
Mempengaruhi Coping
Sebagian orang yang
memiliki keyakinan agama yang kuat maka ia akan merasa dengan lingkungan agama
tersebut dapat membuatnya merasa mendapat dudkungan sosial. Beberapa juga ada
yang saat mengalami stress lalu melakukan ibadah dengan keyakinan masing-masing.
Maka dari situ akan mendapat ketenangan hati dan dapat menjadi salah satu cara
yang dapat berpengaruh untuk coping stress.
Contoh dalam kehidupan
sehari-hari :
1. Saat
kita mengalami stress saat kuliah, kita shock dan homesick ditambah tugas yang
menumpuk, maka dengan menelpon orang tua dapat menjadi coping stress yaitu dukungan
sosial, homesick berkurang dan timbul Kembali semangat untuk mengerjakan tugas.
2. Saat
kita mendapat kabar buruk, maka kita akan stress dengan kabar tersebut. Karena stress
maka nafsu makan kita menurun, kita jadi tidak ada selera untuk makan. Akibatnya
asam lambung naik dan kita jadi sakit, maka disinilah tampak bahwa stress dan
kesehatan memiliki kaitan yang erat.
Referensi
:
Ciccarelli,
S.K. & White, J. N. (2015). Psychology 4ed. USA: Pearson.
Komentar
Posting Komentar