Stress dan Kesehatan

 Stress dan Kesehatan


Nama         : Hanum Nabilah

NIM          : 2310321011

Kelas        : Psikologi A

Dosen Pengampu :

Diny Amenike, M.Psi.,Psikolog

Mafaza, S.Psi.,M.Sc

Puji Gufron Rhodes, S.Psi, M.Si,




A.    Hubungan Antara Stress dan Stressor

1.     Stress

Stress merupakan suatu bentuk penjabaran fisik, emosional yang menjadi respon kita terhadap ancaman atau hal yang tidak kita sukai. Factor kenapa kita bisa stress itu dapat dipengaruhi banyak hal, seperti kurang tidur, tugas yang menumpuk, masalah yang datang bertubi-tubi dan kita tidak tahu cara menyelesaikan masalah yang ada sehingga timbul stress. Tentunya perilaku yang ditimbulkan dari stress itu setiap orang berbeda-beda. Ada yang banyak menangis, memukul barang, melukai diri, makan yang banyak, dan lainnya. Biasanya orang stress itu sensitive, mudah tersinggung, dan selera humornya menurun. Setiap orang akan mengalami tingkat stress yang berbeda, tergantung masalah dan car akita menyikapinya.

2.     Stressor

Stressor merupakan pemicu atau penyebab terjadinya stress, yang datangnya bisa dari internal (dari dalam diri) maupun eksternal (dari luar) bisa dalam kadar yang ringan hingga berat. Contohnya saat kita menerima banyak tugas yang memiliki tenggat yang sama sehingga bingung untuk mengerjakan yang mana terlebih dahulu, maka tugas tersebut dapat menjadi pemicu kita stress. Selain itu stress juga dapat dalam bentuk khayalan, hanya dengan memikirkan atau berkhayal hal yang belum terjadi dan berangan terjadi suatu masalah, maka akan timbul stress diakibatkan imajinasi kita sendiri.

Stressor itu dapat terbagi menjadi dua, yaitu distress dan eustress :

a.     Distress

Distress merupakan penyebab stress yang berdampak negative, misalkan kita stress terhadap tugas maka kita salah mengambil keputusan, selera makan menurun maka hal itu akan berdampak negative terhadap kesehatan. Atau respon kita yaitu dengan menangis berlebihan hal itu akan berpengaruh pada mood atau juga bisa menguras energi.

b.     Eustress

Kebalikan dari distress, maka eustress ini merupakan penyebab dari hal yang positif yang mana mengharuskan kita untuk mengalami yang namanya adaptasi. Contohnya saat kita bisa kuliah itu merupakan suatu hal yang positif, namun setelahnya kita harus beradaptasi dengan banyak hal seperti sibuk organisasi, sibuk nugas, istirahat berkurang maka dengan adanya adaptasi tapi penyebabnya positif.

                       

                        Ada beberapa alasan mengapa seseorang menganggap itu dapat membuat stress :

1.     Tekanan

Dari masalah yang dihadapi kita merasakan adanya tekanan atau didesak sehingga hal itulah yang dapat menimbulkan stress. Disaat kita dipenuhi perasaan ingin berbuat lebih tapi dibawah tekanan dan tuntutan, entah itu tuntutan waktu dan lainnya. Bahkan dibeberapa orang dengan adanya tuntutan waktu bisa menggagalkan fokusnya.

2.     Tidak terkontrol

Alasan lainnya yaitu kurangnya kendali atau hilangnya control terhadap diri kita. Bahkan tingkat stress tersebut dapat dilihat seberapa besar kitab isa mengontrol diri.

3.     Frustasi

Frustasi terjadi saat keinginan atau tujuan kita tidak terjadi sesuai harapan atau terhalangi maka kita akan frustasi. Frustasi juga dapat dipengaruhi eksternal, dan seberapa besar kadarnya itu tergantung seberapa penting tujuan yang kita punya.

4.     Agresi

Agresi erat kaitannya dengan frustasi yaitu tindakan menyakiti, yang mana awal mulanya dari rasa frustasi yang akan dilanjutkan dengan sikap agresi. Tapi tidak semua frustasi akan dilanjutkan dengan agresi, namun frustasi hanya sebagai pemicunya.

B.    Faktor Fisiologis Dari Stress dan Kesehatan

Pada factor fisiologis ini kita juga akan membahas autonomic nervous system (ANS) atau sistem saraf otonom, dinamakan otonom berarti ini mengatur hal yang terjadi secara otomatis atau tidak sengaja. ANS terbagi menjadi simpatik dan parasimpatik, simpatik yaitu reaksi tubuh saat kita stress, contohnya penghambatan pencernaan, lalu parasimpatik yaitu yang mengembalikan kondisi tubuh normal kembali.

1.     General Adaptation Syndrome

Hans Selye meneliti mengenai stress dan dampaknya terhadap tubuh, ia juga mempelajari urutan reaksi fisiologis kita Ketika menerima stressor (pemicu stress), rangkaian urutan ini disebut syndrome, dirangkum dalam 3 tahap :

a.     Alarm

Saat menerima stressor maka tubuh akan bereaksi, saraf simpatik akan diaktifkan dan kelenjar adrenal akan melepas hormon seperti tekanan darah, denyut jantung, dan lainnya. Sehingga tak jarang saat kita stress itu merasa pusing, mual, dan berantakan. Pada tahap alarm, seolah ia disebut sebagai peringatan bahwa telah menerima stressor.

b.     Resistensi

Tahap stress berlanjut, setelah menerima stressor maka akan terus melepas hormon untuk membantu tubuh dalam melawan atau menyelesaikan stress tersebut. Gejala awal yaitu khawatir kita mulai hilang dan merasa lebih baik. Hal ini terus terjadi hingga stressor itu berakhir dan kita sudah mulai kehilangan tenaga. Saat stress hormon yang banyak yaitu epinefrin.

c.     Kelelahan

     Saat semua proses di atas kita lakukan maka kita akan kekurangan sumber data, kita akan kehilangan energi karna banyak terkuras akibat stress. Disaat merasa lelah saraf parasimpatik akan bekerja untuk memulihkan energi kembali.

     Dari penelitian Hans Selye inilah dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara stress dan kesehatan seseorang, yang mana stress ini tidak dapat kita hindari, karena dalam hidup akan terus ada masalah yang harus kita hadapi, tergantung bagaimana kita beradaptasi kedepannya. Saat kita stress, khawatir lalu merasa Lelah maka hal itu akan berdampak pada sistem kekebalan tubuh, kita akan pusing, kurang makan sehingga mag.

 

2.     Keterkaitan Imun dan Stress

Seperti pada penelitian Selye, bahwa saat kita menerima stressor itu tubuh atau fisiologis akan merespon yang mana itu berkaitan dengan imun atau sistem kekebalan tubuh. Saat kita stress dengan detak jantung ataupun tekanan darah yang tidak stabil sehingganya akan menyerang sistem kekebalan tubuh.

Jadi imun itu ada menghasilkan antibody atau enzim tertentu untuk melawan bakteri yang masuk dalam tubuh, yang mana akan mengaktifkan sistem saraf vagus yang akan menghantarkan sinyak kepada otak bahwa tubuh sedang sakit. Dalam kehidupan kita pastinya sering mengalami stress yang berujung kelelahan maka dari itu hal itu dapat merusak imun seseorang jika terjadi secara terus menerus.

 

3.     Health Psychology

Masyarakat mulai menyadari bahwa kesehatan itu ada kaitannya dengan aktifitas atau apa yang kita lakukan sehari-hari. Psikologi kesehatan ini berfokus pada sifat fisiologis, kondisi fisik bahwa hal itu dapat mempengaruhi kesehatan kita secara keseluruhan. Contoh psikologi pada bidang kesehatan yaitu psikologi klinis yang juga bekerja di klinik atau beberapa psikologi kesehatan juga bisa jadi pengajar maupun peneliti.

Pada psikologi kesehatan mereka ingin meneliti dan mengetahui bagaimana oabt-obatan atau jenis makanan dapat melawan penyakit yang ada. Serta juga ingin tahu bagaimana factor kemiskinan dan lainnya dapat mengakibatkan buruk terhadap kesehatan. Psikologi kesehatan juga berkaitan dengan psikologi perilaku, tampak bahwa disini ada kolaborasi antara kedokteran dengan psikologi.

 

4.     Factor Kognitif

Sebenarnya factor kognitif itu memiliki peran yang penting juga, tentang bagaimana kognitif kita mengartikan stressor yang terjadi. Misalkan saat masalah atau stressor itu datang itu tergantung bagaimana kognitif kita menilai sesuatu itu, besar atau kecilnya itu tergantung kognitif. Maka ada hubungannya juga dengan teori Lazarus yang mana sebelum kita mengalami atau merasakan emosi kita nilai secara kognitif yang mana hal tersebut dapat berpengaruh dengan perlakuan yang akan kita alami. Jika dinilai susah maka kita akan menjalani dengan berat, begitupun masalah jika kitab isa menilainya bahwa itu masalah yang ringan maka kita hanya akan mengalami stress yang ringan.

Menurut Lazarus ada dua cara untuk menghadapi stressor, pertama dengan penilaian primer yang mana bagaimana kita menilai sesuatu itu sebagai sebuah ancaman, tantangan, atau kerugian yang sudah terjadi. Jika kita memandangnya sebagai ancaman maka kita akan pesimis dan timbul emosi negative, namun saat kita memandang suatu itu sebagai tantangan maka akan muncul emosi positif. Contohnya saat kita mengalami kesibukan kuliah tambah tugas, jika kita menganggapnya sebagai suatu ancaman maka kita akan stress berfikir bahwa itu tidak akan terlewati sehingga tugas keteteran. Sebaliknya jika kita menganggapnya sebagai sebuah tantangan maka kita akan berusaha mengerjakan satu-persatu agar semua terselesaikan dan kegiatan tetap berjalan lancer.

Kedua yaitu penilaian sekunder yang mana kita mengukur dir, kemampuan, dan energi kita untuk menghadapi stressor. Jika kita memiliki sumber daya yang baik atau lengkap maka kita akan menganggap stressor itu kecil dan begitupun sebaliknya. Contohnya saat banyak tugas lalu kita nilai sumber day akita, bahwa kita tidak mengantuk, punya materi, punya makanan maka kita akan mengerjakan tugas tersebut dengan baik dan santai karena sumber daya yang memadai.

 

5.     Kepribadian

Cara melihat sesuatu dengan kognitif itu berkaitan juga dengan kepribadian yakni bagaimana kita menyikapi atau berperilaku terhadap stressor, yang akan disebut sebagai pribadi masing-masing. Kepribadian setiap orang tentu akan berbeda. Telah terbukti bahwa karakteristik kepribadian itu factor utama untuk dapat mengetahui kesehatan seseorang. Jika respon terhadap stress itu buruk, agresif maka akan berpengaruh pada kesehatan. Sedangkan jika pribadi kita dalam menghadapi masalah atau stressor itu baik, tenang maka akan dampak baik pula pada kesehatan. Karena dengan hati Bahagia kita akan mudah tersenyum dan akan berdampak baik pada mood makan dan seterusnya.

Dokter Meyer Freidman dan Ray Roseman menerbitkan sebuah buku berjudul Type A Behavior and Your Heart. Buku ini berisi penelitian tentang pengaruh karakteristik kepribadian dengan jantung coroner. Tipe kepribadian itu dibagi menjadi Tipe A dan Tipe B. Tipe A merupakan seseorang dengan kepribadian yang ambisius, gila kerja, kompetitif, mereka benci dengan hal yang tidak berguna atau sia-sia. Mereka cenderung ingin lebih cepat dan lebih baik dari orang lain. Mereka ambisius dengan hasil yang sempurna dan sering merasa tidak puas. Kebalikannya Tipe B itu cenderung santai, damai, ceria, bersemangat, tidak gila kerja. Maka dilakukan penelitian yang hasilnya bahwa Tipe A itu cenderung lebih mudah terkena penyakit jantung coroner, karena ia tidak ada waktu untuk bersantai. Bahkan waktu santainya ia pakai untuk bekerja.

 

6.     Factor Sosial

Factor sosial memang dapat memicu terjadinya stress, yang mana kita manusia merupakan makhluk sosial yang akan selalu berhubungan dengan orang lain yang berkemungkinan besar masalah itu emang datang dari sosial atau luar. Terkait kemiskinan, Ketika kekurangan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup juga dapat menjadi pemicu stress. Stress pekerjaan, meskipun dengan punya pekerjaan dan gaji bukan berarti tidak punya masalah yang dapat memicu stress juga. Salah satu contoh stress dari pekerjaan yaitu kelelahan. Tidak hanya bagi orang yang bekerja bagi kita mahasiswa yang sedang berkuliah juga dapat stress karna kelelahan akibat banyaknya kegiatan maupun tanggungjawab lainnya.

Bagaimana dengan budaya yang dapat mempengaruhi stress seseorang, tentunya saat budaya di daerah kita seperti ini, namun saat merantau kita harus bisa menyesuaikan dengan budaya orang lain, maka akan timbul stress apalagi jika hal itu sangat jauh berbeda dengan budaya kita, kita akan melalui proses adaptasi yang berat.

C.    Coping Stress

Coping stress merupakan cara mengatasi stress, saat kita menerima stressor lalu kita stress maka hal tersebut dapat diatasi, setiap orang akan mempunyai coping stress yang berbeda-beda.

1.     Strategi Coping Stress

Strategi coping stress ini merupakan suatu perilaku atau tindakan yang kita lakukan guna untuk mengurangi atau mengatasi stress. Jadi saat menerima stressor kita melakukan strategi atau tindakan yang dapat mengatasi stress tersebut. Misalnya aku stress karena uang jajan bulanan tinggal sedikit, maka coping stress atau cara untuk mengatasinya dengan hemat dan kurangi jajan yang tidak begitu penting.

Beberapa penelitian mengatakan bahwa dengan tertawa dapat meningkatkan hormon yang melindungi kesehatan dan dapat mendatangkan hal positif. Selain itu kita juga bisa melakukan meditasi yang mana bertujuan agar kitab isa tetap relaks. Jenis meditasi yang paling sering adalah meditasi konsentrasi yang mana dapat memfokuskan pada satu hal sehingga dapat mengurangi pikiran mengenai masalah. Herbert Benson menemukan bahwa meditasi dapat merelaksasi, tekanan darah menurun dan gelombang alfa meningkat (gelombang alfa berhubungan dengan realksasi). Jadi dapat disimpulkan bahwa dengan metode relaksasi atau meditasi ini memang efektif untuk dapat mengurangi stress dan membuat keadaan jauh lebih tenang dan nyaman.

2.     Dukungan Sosial Mempengaruhi Coping

Dukungan sosial itu datang dari orang lain seperti, teman, keluarga, dan lainnya yang bisa dalam bentuk nasihat, dukungan material, dan lain sebagainya. Jika kita punya dukungan sosial yang baik dan cukup maka potensi kita terkena stress itu amat kecil, atau kita dapat lebih mudah dalam mengahadapi stressor. Dengan meningkatnya dukungan sosial akan berdampak baik pada kesehatan seseorang.

3.     Budaya Mempengaruhi Coping

Setiap daerah akan memiliki budayanya masing-masing, jadi setiap daerah pun juga punya cara yang beda untuk mengatasi stress tersebut. Kita tidak bisa mengatakan budaya itu salah tapi memang seperti itu cara mereka dalam menghadapi stress.

4.     Agama Mempengaruhi Coping

Sebagian orang yang memiliki keyakinan agama yang kuat maka ia akan merasa dengan lingkungan agama tersebut dapat membuatnya merasa mendapat dudkungan sosial. Beberapa juga ada yang saat mengalami stress lalu melakukan ibadah dengan keyakinan masing-masing. Maka dari situ akan mendapat ketenangan hati dan dapat menjadi salah satu cara yang dapat berpengaruh untuk coping stress.

 

Contoh dalam kehidupan sehari-hari :

1.     Saat kita mengalami stress saat kuliah, kita shock dan homesick ditambah tugas yang menumpuk, maka dengan menelpon orang tua dapat menjadi coping stress yaitu dukungan sosial, homesick berkurang dan timbul Kembali semangat untuk mengerjakan tugas.

2.     Saat kita mendapat kabar buruk, maka kita akan stress dengan kabar tersebut. Karena stress maka nafsu makan kita menurun, kita jadi tidak ada selera untuk makan. Akibatnya asam lambung naik dan kita jadi sakit, maka disinilah tampak bahwa stress dan kesehatan memiliki kaitan yang erat.

 

Referensi :

Ciccarelli, S.K. & White, J. N. (2015). Psychology 4ed. USA: Pearson.

 

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Proses dan Fungsi Mental : Sensasi dan persepsi